PAP TT

 

 Mau ke mana? Sudah chatingan? Sudah pacarannya? Sambil ingetin calon istri kamu, jangan lupa PAP TT! Mau yang masih PDKT, yang sudah pacaran, atau yang sudah lama pacaran, tetap jangan lupa PAP TT. Soalnya, mau kapan lagi? Kita sudah terlalu jauh dari-Nya. Shalat lima kali sehari, itu pun kalau ada masalah, kita hanya menghadap-Nya saat ditimpa musibah. Memang sih, nggak salah...., tapi kayaknya nggak benar juga. Allah memberikan kita masalah karena Dia sayang dan ingin kita selalu mengingat-Nya. Seperti sabda Nabi: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka Dia akan mengujinya.” Minta kepada-Nya, jika kita sulit untuk tidak melakukan dosa. Minimal, minta cobaan supaya semakin sadar akan rahmat-Nya.

Perbanyak Amal, Perbanyak Tadarus Terus (PAP TT)! Mungkin dari situ kita bisa ingat kembali akan kehambaan kita kepada-Nya. Kenapa harus baca Al-Qur'an? Karena memang hanya Al-Qur'an yang bisa menjadi pedoman kita. Ingat kata Ustadz Somad? “Kalau kau ingin berbicara kepada Allah, maka berdoalah. Jika kau ingin Allah berbicara padamu, maka bacalah Al-Qur'an.” Siapa tahu, apa yang kamu cari—takdir yang belum kamu pahami, atau nasihat yang kamu perlukan—dapat kamu temukan di dalam-Nya. Misalnya, ketika kamu putus dengan pacar, ditinggal teman, atau merasa sendirian, dan kamu baca Al-Qur'an: “Ma Wadda’aka Rabbuka Wamaa Qalaa” (artinya: Tuhan tidak meninggalkan dan tidak membencimu). Atau, jika hidup terasa berat dan sulit, baca ayat: “A lam nasyrah laka sadrak” (artinya: Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?). Insya Allah, kamu akan merasa terbantu dan merasakan kasih sayang-Nya yang abadi, meskipun kamu tidak pernah memperhatikannya. Bacalah Al-Qur'an seolah-olah Al-Qur'an diturunkan khusus untukmu, dan mungkin dari situ kamu akan sadar betapa Allah memperhatikan kita.

Ketika kita mencintai seorang wanita dan selalu menyebut namanya, rasakan betapa tenangnya hatimu dan betapa rindunya kamu padanya. Andai kamu mencintai Allah dengan cara yang sama—selalu menyebut nama-Nya (berdzikir) dan selalu merindukan-Nya—niscaya kamu tidak akan menemui jalan buntu lagi. Tidak perlu khawatir tentang dampak negatif mencintai-Nya, atau bertanya apakah Allah juga mencintaimu, karena pada hakikatnya, Tuhan akan selalu mencintai kita. 

Pernah dengar nama Fudhail bin Iyadh? Jika belum, saya akan ceritakan sekilas. Beliau adalah tokoh sufi terkemuka dalam sejarah Islam yang terkenal dengan kisah tobatnya. Ia lahir di Khorasan pada abad ke-2 Hijriah (sekitar abad ke-8 Masehi). Pada awal hidupnya, Fudhail bin Iyadh dikenal sebagai seorang perampok dan bandit yang sering menakut-nakuti para musafir dan pedagang. Ia sering melakukan aksinya di jalan-jalan antara Khorasan dan Merv, di wilayah yang kini dikenal sebagai Iran dan Turkmenistan. Fudhail memiliki reputasi yang menakutkan, dan banyak orang khawatir melewati daerah tempat dia beroperasi.

Suatu hari, saat Fudhail merencanakan untuk merampok sebuah kafilah, ia tiba-tiba mendengar suara seseorang membaca Al-Qur'an. Ayat yang dibaca adalah dari Surah Al-Hadid (57:16): “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)?” Ayat ini menembus hati Fudhail seperti anak panah, mengguncang hatinya dan membuatnya merenung dalam-dalam tentang kehidupan yang telah ia jalani. Ia merasa seolah-olah ayat itu langsung ditujukan kepadanya, mempertanyakan kapan ia akan berubah dan berhenti dari perbuatan dosanya.

 

Dalam momen introspeksi yang mendalam, Fudhail menyadari betapa jauh dirinya dari jalan kebenaran dan betapa ia telah menyia-nyiakan hidupnya dalam perbuatan yang tidak berguna dan berdosa. Di tengah malam yang sunyi, Fudhail merasakan hidayah dari Allah dan memutuskan untuk bertaubat. Ia meninggalkan niat jahatnya untuk merampok dan sebaliknya, memutuskan untuk mencari pengampunan dari Allah. Setelah tragedi itu, Fudhail mengubah hidupnya secara drastis. Ia meninggalkan kehidupan sebagai perampok dan mulai menjalani kehidupan yang penuh dengan ibadah dan taqwa. Fudhail menjadi seorang zahid (asketis) yang terkenal dan mengabdikan dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Bagaimana? Masih malas membaca Al-Qur'an? Tidak apa-apa, mau kamu banyak dosa atau tidak, Al-Qur'an selalu menunggu kedatanganmu. Jangan insecure karena kamu merasa banyak kekurangan. Ingat kata Habib Ja’far, tidak usah insecure karena kita pasti punya kelebihan, meski mungkin itu sebuah dosa, Wkwkwk.

Komentar

Posting Komentar