Di ujung waktu

    


  Langit sore itu tampak biasa saja, tapi ada yang terasa berbeda di dada Raka. Ia duduk diam di bangku taman yang sudah jadi saksi banyak kenangan bersama Rini. Sudah setahun lebih mereka bersama melewati tawa, luka, dan segala hal yang membuat cinta mereka tampak kuat. Tapi hari itu, Rini datang dengan tatapan kosong dan senyum yang menggantung tanpa makna.

"Aku mau sendiri dulu," ucap Rini pelan.

Raka menoleh, mencoba memahami maksud dari kalimat singkat itu.

"Maksudnya?" tanyanya, meski hatinya sudah menebak.

Rini menghela napas, lalu menatap ke arah langit yang mulai jingga.

"Aku... cuma butuh waktu. Jarak. Mungkin... semuanya."

Tak ada amarah di wajah Rini. Justru itulah yang paling menakutkan. Ketika seseorang bisa bicara soal perpisahan dengan ketenangan, itu artinya ia benar-benar siap kehilangan. Raka menunduk. Pikirannya dipenuhi tanya, tapi mulutnya terlalu berat untuk membentuk satu pun kata.

"Kenapa, Rin? Ada yang salah? Kita baik-baik aja, kan?"

Rini tersenyum tipis, tapi matanya kosong.

"Bukan kamu. Ini aku." Iapun pergi, meninggalkan Raka yang terdiam Tampa kata.

        Hari-hari setelahnya menjadi begitu sunyi. Raka masih menyusuri jalanan yang biasa mereka lewati bersama. Masih duduk di kafe tempat mereka bercanda soal masa depan. Tapi tak ada lagi pesan 'jangan lupa makan' atau tawa Rini yang mulai menjadi kenang.

Cinta mereka tak kandas karena pengkhianatan. Tak ada drama, tak ada air mata tumpah ruah. Hanya sebuah kepergian yang datang diam-diam, dan rasa yang perlahan membeku karena tak tahu harus marah pada siapa.

Raka akhirnya belajar satu hal, tidak semua perpisahan datang bersama penjelasan.

Kadang, cinta yang tumbuh dan dirawat bertahun-tahun pun bisa gugur dalam sekejap, tanpa alasan yang bisa dimengerti. Dan itu yang paling menyakitkan ketika seseorang pergi, tapi kamu masih mencintainya... tanpa tahu kenapa ia memilih untuk berhenti.

Komentar