Ketika Matahari dan Bulan Beredar

 

 
Ada kalanya seorang lelaki merasa takut atau ragu untuk menikahi wanita yang memiliki derajat kekayaan atau jabatan lebih tinggi. Ketakutan ini sering dikaitkan secara kiasan dengan Surat Yasin ayat 40 yang berbunyi: 

لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan, dan malam pun tidak mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”

Ayat ini menggambarkan bahwa di alam semesta, segala sesuatu memiliki keteraturan dan harmoni. Dalam konteks hubungan manusia, khususnya pernikahan, seorang lelaki mungkin merasa khawatir akan ketidakseimbangan jika ia menikahi wanita yang statusnya lebih tinggi. Sama seperti matahari dan bulan yang memiliki jalurnya masing-masing dan tidak saling mendahului, pria mungkin merasa takut bahwa perbedaan kekayaan atau jabatan dapat mengganggu "keseimbangan" dalam hubungan. Ini berangkat dari anggapan tradisional bahwa seorang suami seharusnya memiliki status yang lebih tinggi atau setara dengan istrinya, agar peran dalam rumah tangga tetap harmonis dan sesuai dengan norma sosial.

Ketakutan ini biasanya berasal dari kekhawatiran psikologis atau sosial, bahwa perbedaan status bisa menyebabkan ketidakcocokan atau kesalahpahaman dalam menjalankan kehidupan bersama. Namun, jika kita melihat lebih dalam, ayat ini juga mengajarkan pentingnya menjaga harmoni dan saling menghargai peran masing-masing, sama seperti alam semesta yang berjalan dalam keseimbangan sempurna. Dalam hubungan suami istri, apa yang dibutuhkan bukanlah status yang sama, melainkan kerja sama, saling menghormati, dan kepercayaan satu sama lain.

Namun, meskipun ada ketakutan tentang ketidakseimbangan ini, Allah memberikan jaminan dalam ayat lain di Surat Yasin, yaitu ayat 82:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya: 'Jadilah!', maka jadilah ia.”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Tidak ada yang perlu ditakutkan jika Allah menghendaki suatu kebaikan dalam hidup kita, termasuk dalam pernikahan. Jika hubungan itu baik menurut Allah, maka Dia akan menciptakan jalan dan solusi bagi segala perbedaan yang ada. Oleh karena itu, jangan pernah takut dengan perbedaan status, karena dalam kuasa Allah, semua bisa berjalan dengan baik jika niat kita lurus dan ikhlas.

Motivasi dari ayat ini adalah agar kita tidak terjebak dalam ketakutan yang berlebihan. Allah yang Maha Mengatur segalanya dapat mengubah segala keadaan menjadi mudah. Jika kita percaya pada-Nya, maka segala perbedaan dalam hubungan, termasuk kekayaan atau jabatan, akan menjadi peluang untuk membangun keluarga yang harmonis, karena Allah yang mengatur segalanya dengan sempurna.

Komentar