Perbanyak Amal, Perbanyak Tadarus Terus (PAP TT)! Mungkin
dari situ kita bisa ingat kembali akan kehambaan kita kepada-Nya. Kenapa harus
baca Al-Qur'an? Karena memang hanya Al-Qur'an yang bisa menjadi pedoman kita.
Ingat kata Ustadz Somad? “Kalau kau ingin berbicara kepada Allah, maka berdoalah.
Jika kau ingin Allah berbicara padamu, maka bacalah Al-Qur'an.” Siapa tahu, apa
yang kamu cari—takdir yang belum kamu pahami, atau nasihat yang kamu
perlukan—dapat kamu temukan di dalam-Nya. Misalnya, ketika kamu putus dengan
pacar, ditinggal teman, atau merasa sendirian, dan kamu baca Al-Qur'an: “Ma
Wadda’aka Rabbuka Wamaa Qalaa” (artinya: Tuhan tidak meninggalkan dan tidak
membencimu). Atau, jika hidup terasa berat dan sulit, baca ayat: “A lam nasyrah
laka sadrak” (artinya: Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?). Insya
Allah, kamu akan merasa terbantu dan merasakan kasih sayang-Nya yang abadi,
meskipun kamu tidak pernah memperhatikannya. Bacalah Al-Qur'an seolah-olah
Al-Qur'an diturunkan khusus untukmu, dan mungkin dari situ kamu akan sadar betapa
Allah memperhatikan kita.
Ketika kita mencintai seorang wanita dan selalu menyebut namanya, rasakan betapa tenangnya hatimu dan betapa rindunya kamu padanya. Andai kamu mencintai Allah dengan cara yang sama—selalu menyebut nama-Nya (berdzikir) dan selalu merindukan-Nya—niscaya kamu tidak akan menemui jalan buntu lagi. Tidak perlu khawatir tentang dampak negatif mencintai-Nya, atau bertanya apakah Allah juga mencintaimu, karena pada hakikatnya, Tuhan akan selalu mencintai kita.
Pernah dengar nama Fudhail bin Iyadh? Jika belum, saya akan
ceritakan sekilas. Beliau adalah tokoh sufi terkemuka dalam sejarah Islam yang
terkenal dengan kisah tobatnya. Ia lahir di Khorasan pada abad ke-2 Hijriah
(sekitar abad ke-8 Masehi). Pada awal hidupnya, Fudhail bin Iyadh dikenal
sebagai seorang perampok dan bandit yang sering menakut-nakuti para musafir dan
pedagang. Ia sering melakukan aksinya di jalan-jalan antara Khorasan dan Merv,
di wilayah yang kini dikenal sebagai Iran dan Turkmenistan. Fudhail memiliki
reputasi yang menakutkan, dan banyak orang khawatir melewati daerah tempat dia
beroperasi.
Suatu hari, saat Fudhail merencanakan untuk merampok sebuah
kafilah, ia tiba-tiba mendengar suara seseorang membaca Al-Qur'an. Ayat yang
dibaca adalah dari Surah Al-Hadid (57:16): “Belumkah datang waktunya bagi
orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada
kebenaran yang telah turun (kepada mereka)?” Ayat ini menembus hati Fudhail
seperti anak panah, mengguncang hatinya dan membuatnya merenung dalam-dalam
tentang kehidupan yang telah ia jalani. Ia merasa seolah-olah ayat itu langsung
ditujukan kepadanya, mempertanyakan kapan ia akan berubah dan berhenti dari
perbuatan dosanya.
Dalam momen introspeksi yang mendalam, Fudhail menyadari
betapa jauh dirinya dari jalan kebenaran dan betapa ia telah menyia-nyiakan
hidupnya dalam perbuatan yang tidak berguna dan berdosa. Di tengah malam yang
sunyi, Fudhail merasakan hidayah dari Allah dan memutuskan untuk bertaubat. Ia
meninggalkan niat jahatnya untuk merampok dan sebaliknya, memutuskan untuk
mencari pengampunan dari Allah. Setelah tragedi itu, Fudhail mengubah hidupnya
secara drastis. Ia meninggalkan kehidupan sebagai perampok dan mulai menjalani
kehidupan yang penuh dengan ibadah dan taqwa. Fudhail menjadi seorang zahid
(asketis) yang terkenal dan mengabdikan dirinya untuk mendekatkan diri kepada
Allah.
Bagaimana? Masih malas membaca Al-Qur'an? Tidak apa-apa, mau
kamu banyak dosa atau tidak, Al-Qur'an selalu menunggu kedatanganmu. Jangan
insecure karena kamu merasa banyak kekurangan. Ingat kata Habib Ja’far, tidak
usah insecure karena kita pasti punya kelebihan, meski mungkin itu sebuah dosa,
Wkwkwk.

ok
BalasHapus