Cinta Stoikisme

 

Pada tulisan sebelumnya, saya telah membahas mengenai Cinta Platonis, dan sekarang saya berusaha menguraikan tentang Cinta Stoiksme, sebenarnya Stoiksme memiliki banyak nama, ada yang menyebutnya Stoa ada jugak yang menyebutnya Stoisme, biasa Henry Manampiring penulis buku Filsafat Teras menyebutnya dengan Stoisme. Kata Filsat Teras sendiri memiliki arti Filsafat Stoisme, yang diterjemahkan sebagai kata Teras, tapi, saya akan menggunakan kata Stoikisme karena, kata Stoikisme yang lebih umum untuk diartikan sebagai "sikap tabah".

Saya akan menjelaskannya dengan lebih santai dan bahasa yang mudah dimengerti. Semisal  kamu sedang duduk di taman, merenungi perasaan cinta yang tak kunjung datang, atau yang mungkin sudah datang tapi hanya mampir sebentar sebelum pergi meninggalkan luka. Rasanya seperti menunggu angkot yang tak kunjung lewat, padahal kamu sudah lama berdiri di pinggir jalan. Dalam hati, kamu mungkin bertanya, “Apakah aku ini kurang pantas? Atau mungkin nasib cintaku memang ditakdirkan untuk kandas?”

Nah, di sinilah Stoikisme hadir sebagai sahabat yang siap menuntunmu untuk tidak terjebak dalam drama perasaan. Bukan sekadar filsafat kuno yang rumit, Stoikisme adalah peta jalan hidup yang bisa membantumu menghadapi cinta dengan tenang, bijak, dan tentunya tanpa galau berlebihan.

Kisah Cinta dalam Pandangan Stoik

Bayangkan seorang filsuf Stoik, mungkin kita sebut dia Si Marcus Aurelius, sedang duduk santai di sudut kota Roma, sambil memikirkan perasaan yang dia miliki pada seorang wanita bernama Fausta. Marcus tahu betul bahwa dia tak bisa memaksakan cinta Fausta padanya. Dia mengerti bahwa cinta itu bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan sepenuhnya.

Marcus lalu memutuskan untuk mengikuti prinsip Stoik, yaitu fokus pada apa yang bisa dia kendalikan: perasaan dan tindakannya sendiri. “Cinta tak berbalas? Bukan masalah besar,” pikir Marcus. Dia sadar bahwa perasaan cintanya pada Fausta bukanlah cerminan dari nilai dirinya sebagai manusia, melainkan hanya bagian dari kehidupan yang harus dia terima dengan lapang dada.

“Kendalikan apa yang bisa kau kendalikan, dan lepaskan sisanya,” begitu kata Epictetus, karena timun pahit itu seharusnya dibuang, bukan tetap dimakan.

Ketika Galau Menghampiri

Sekarang, bayangkan kamu adalah Marcus, tapi dengan versi yang sedikit lebih modern (mungkin pakai jeans dan kaos, bukan toga). Kamu baru saja mengirim pesan ke seseorang yang kamu suka, dan dia hanya membalas dengan “Hmm”. Sakitnya tuh di sini. Lalu, otakmu mulai berputar, mengulang-ulang balasan singkat itu, dan bertanya-tanya, “Apakah dia tidak tertarik? Apakah aku melakukan kesalahan?”

Saat seperti ini, ajaran Stoik bisa sangat membantu. “It’s not what happens to you, but how you react to it that matters,” kata Epictetus lagi. Artinya, galau itu mungkin datang karena ekspektasi dan keinginanmu tidak terpenuhi, tapi reaksi yang bijak adalah kunci untuk menjaga ketenangan.

Daripada terus memikirkan balasan singkat itu, seorang Stoik akan mengingat bahwa apa yang orang lain pikirkan atau rasakan adalah di luar kendali kita. Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana kita meresponnya. Respon terbaik? Tersenyum, angkat dagu, dan lanjutkan hidupmu dengan penuh percaya diri.

Merasa Tidak Pantas?

Rasa tidak pantas atau minder dalam urusan cinta juga sering kali muncul. “Aku ini siapa sih dibanding dia? Mana mungkin dia tertarik padaku,” mungkin pernah terlintas di benakmu. Jangan khawatir, bahkan para Stoik pun pernah merasakan hal yang sama. Namun, mereka punya cara unik untuk menghadapinya.

Marcus Aurelius, dalam tulisannya Meditations, pernah berkata, “Men’s lives are dyed with the color of their imaginations.” Maksudnya, hidupmu akan menjadi seperti apa yang kamu pikirkan. Jika kamu terus merasa tidak pantas, kamu akan hidup dalam bayangan ketidakpastian dan ketakutan. Sebaliknya, jika kamu percaya pada nilai dirimu sendiri dan fokus pada kebajikan yang kamu miliki, maka kamu akan menarik hal-hal baik dalam hidup, termasuk cinta.

Solusi Stoik: Bersikap Stoik

Jadi, bagaimana caranya bersikap Stoik dalam urusan cinta? Berikut beberapa langkah sederhana:

1. Fokus pada Kebajikan: Cintai dirimu sendiri dengan mengembangkan kebajikan, seperti kebaikan, kesabaran, dan pengendalian diri. Dengan menjadi versi terbaik dirimu, cinta yang sejati akan datang dengan sendirinya.

2. Terima Nasib dengan Senyum: Jika cinta yang kamu harapkan tak terbalas, terimalah itu sebagai bagian dari hidup. “Amor fati”(cintai nasibmu) adalah salah satu prinsip Stoik yang mengajarkan kita untuk mencintai setiap bagian dari hidup kita, baik yang manis maupun yang pahit.

3. Tetap Tenang dalam Galau: Ketika perasaan galau datang, ingatlah bahwa perasaan itu hanyalah hasil dari pikiranmu sendiri. Ambil napas dalam-dalam, dan lepaskan pikiran negatif. Kata Seneca, “We suffer more in imagination than in reality.” Jangan biarkan pikiran negatif merusak kedamaian batinmu.

4. Bertindak dengan Kebijaksanaan: Dalam setiap tindakan cinta, baik itu mendekati seseorang atau menghadapi penolakan, bertindaklah dengan kebijaksanaan dan tidak berlebihan. Jangan terjebak dalam drama yang tidak perlu.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, kamu bisa menghadapi cinta dengan kepala tegak dan hati yang tenang. Cinta itu memang indah, tapi ingatlah bahwa cinta yang sejati tidak perlu dipaksakan, dan tidak akan membuatmu kehilangan kedamaian batin. Jadi, mari hadapi cinta dengan cara Stoik: tenang, bijaksana, dan penuh cinta pada diri sendiri.

Komentar

Posting Komentar