Menilik Fenomena Sosial di Balik Kontroversi Esteh di Pengajian


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Besar Muhammad ﷺ.

Dalam kesempatan ini, izinkan saya berbagi pemikiran yang mungkin tidak semua orang akan setuju. Diskusi ini ditujukan bagi mereka yang ingin berpikir lebih dalam, bukan sekadar mencari pembenaran atau mempertahankan sudut pandang pribadi tanpa keterbukaan. Jika Anda merasa kurang nyaman untuk mendengar gagasan yang berbeda atau terlibat dalam diskusi ini, mungkin lebih baik untuk tidak melanjutkan membaca.

Fenomena yang akan kita bahas adalah kontroversi seputar penjual esteh di pengajian. Namun, saya tidak ingin terjebak hanya pada peristiwa ini semata. Ada dimensi yang lebih mendalam terkait sikap mental dan cara pandang terhadap sebuah kejadian yang layak untuk kita renungkan bersama.

Dimulai dari insiden itu sendiri, menurut saya ada sesuatu yang secara etis tidak tepat ketika kata-kata kasar seperti “bodoh” atau “goblok” digunakan di dalam forum umum, apalagi dalam konteks pengajian. Meskipun secara syariat bisa saja ada perbedaan pendapat tentang kebolehan menggunakan kata-kata tersebut, etika berbicara seharusnya menjadi perhatian utama. Kata-kata yang kasar cenderung melukai hati orang lain, dan jika mayoritas merasa tersinggung, ini adalah tanda bahwa ada sesuatu yang salah dalam penyampaian tersebut.

Dalam budaya kita, cara berbicara memang memiliki konteks tertentu. Misalnya, dalam lingkungan pertemanan, penggunaan bahasa yang santai atau bahkan kasar kadang dianggap sebagai bentuk keakraban. Namun, ketika berada dalam forum yang lebih formal seperti pengajian, standar etika yang berbeda harus diterapkan. Tidaklah tepat menggunakan kata-kata yang menyinggung secara langsung seseorang, meskipun hal serupa dilakukan dengan nada bercanda atau konteks yang lebih santai di tempat lain.

Selain itu, ada aspek yang lebih luas untuk dibahas. Mengapa peristiwa seperti ini bisa terjadi? Dalam kasus ini, kita melihat latar belakang di mana tokoh seperti Gus Miftah sering membantu melariskan dagangan orang-orang yang hadir di pengajiannya. Hal ini menciptakan persepsi di masyarakat bahwa kehadiran dagangan di pengajian akan membawa keberuntungan. Persepsi ini kemudian menjadi pemicu bagi penjual esteh tersebut untuk hadir dan berharap mendapatkan keuntungan yang sama.

Namun, apakah ini mencerminkan sikap mental yang ideal? Dalam banyak kasus, kita melihat tren yang mirip di media sosial, di mana kesulitan seseorang dijadikan konten untuk menarik perhatian. Ketika seorang kreator konten membeli seluruh dagangan pedagang kaki lima dan membagikannya, hal ini sering dipandang sebagai tindakan mulia. Akan tetapi, dampaknya menciptakan ekspektasi di masyarakat bahwa bantuan semacam itu adalah sesuatu yang wajar dan bahkan seharusnya diberikan.

Akibatnya, banyak orang datang kepada para kreator konten untuk meminta bantuan, berpikir bahwa ini adalah hal yang lumrah. Ironisnya, beberapa kreator kemudian mengeluhkan fenomena ini, menyebut para pencari bantuan sebagai orang yang “mental minta-minta.” Padahal, secara tidak langsung, mereka sendiri yang menciptakan persepsi tersebut melalui konten mereka.

Mentalitas ini berbahaya jika tidak diimbangi dengan kesadaran akan pentingnya usaha dan kerja keras. Sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk membantu sesama, tetapi juga diajarkan untuk tidak menjadi beban bagi orang lain. Bantuan yang ideal adalah bantuan yang diberikan sebelum diminta, berdasarkan pengamatan akan kesulitan orang lain.

Ketakutan saya adalah jika mentalitas ini terus berkembang, akan ada lebih banyak orang yang mengharapkan bantuan tanpa berusaha sendiri. Mereka mungkin merasa berhak atas bantuan tersebut hanya karena melihat orang lain dibantu dalam situasi serupa. Ini dapat memupuk sikap ketergantungan dan mengikis semangat kerja keras yang seharusnya menjadi bagian dari karakter seorang Muslim.

Kisah seorang mualaf yang pernah saya lihat dalam sebuah podcast di youtube memberikan gambaran lain tentang persoalan ini. Dalam sebuah khutbah Jumat, ia mendengar khatib berbicara tentang pentingnya memberi dan mendahulukan kebutuhan orang lain. Setelah itu, ia bertanya apakah khatib tersebut bersedia membantunya, karena merasa bahwa isi khutbah itu seharusnya diwujudkan secara nyata. Di sinilah kita melihat bagaimana seseorang dapat salah memahami pesan sedekah sebagai hak yang harus diterima, bukan kebijaksanaan yang diberikan secara ikhlas.

Dari sini, kita belajar bahwa membantu adalah kewajiban, tetapi membangun mentalitas yang sehat juga sama pentingnya. Sebagai masyarakat, kita perlu menanamkan semangat untuk berusaha keras tanpa mengandalkan belas kasihan orang lain. Di sisi lain, kita juga perlu meningkatkan kepekaan untuk membantu sebelum diminta, tanpa menjadikan bantuan sebagai komoditas yang dipamerkan.

Fenomena seperti ini adalah pengingat untuk selalu menjaga keseimbangan antara membantu dan membangun kemandirian. Ini bukan hanya soal insiden di pengajian, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun masyarakat yang lebih kuat dan saling mendukung secara bijaksana.

Komentar