Aku Ingin Menjadi Anjing




Kita terlalu sering memandang anjing sebagai hewan terendah dan hina, sehingga seringkali kata anjing dijadikan sebagai kata kasar, bahkan sering disensor ketika mengucapkannya, seakan anjing adalah tolak ukur makhluk terendah yang ada di dunia ini. Betul, kan?

Dari mana Anda tahu kalau anjing itu makhluk terendah, sehingga kita merasa tersinggung ketika dijuluki anjing? Padahal, ada loh anjing yang masuk surga! Buktinya adalah anjing milik Ashabul Kahfi, yang sudah mendapatkan jaminan surga dari Allah. Padahal, kita saja sulit untuk mendapatkan tiket emas itu.

Apakah kalian merendahkan anjing karena dagingnya haram dimakan? Kalau iya, maka kita juga makhluk rendahan, karena daging kita pun haram untuk dimakan. Atau mungkin karena air liur anjing itu najis? Bukankah kencing kita juga najis? Atau bagaimana dengan sabda Nabi yang mengatakan bahwa mulut manusia bisa saja lebih najis karena berkata hal-hal buruk? (Maksudnya bukan najis secara harfiah, tetapi berkata buruk itu bisa lebih rendah daripada air liur anjing, karena berkata buruk itu ciptaan kita, sedangkan air liur anjing itu bersifat alami).

Banyak sekali ulama sufi yang menceritakan tentang anjing yang memiliki akhlak mulia, kedermawanan, kesetiakawanan, dan ketidak tamakan. Salah satunya adalah cerita dari Imam Afifuddin Abdullah bin As'ad Al-Yafi'i dalam kitab Raudh Al-Rayyahin Fi-Hikayat As-Salihin. Beliau pernah melihat seekor anjing yang mengikuti sebuah rombongan para sufi. Saat mereka ingin melintasi bangkai hewan, anjing yang melihat bangkai itu tiba-tiba memanggil rombongannya dan membiarkan mereka memakan bangkai itu terlebih dahulu. Ketika mereka selesai, barulah anjing yang pertama kali menemukan bangkai itu memakan sisa-sisanya.

Anjing tidak pernah memakan bangkai hewan yang ia temukan sendiri, mengenyangkan diri lalu memanggil teman-temannya. Ia membiarkan temannya makan terlebih dahulu, baru kemudian ia menikmati sisanya.

Begitu pula Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Kasyifatusaja’ mengabadikan berbagai pelajaran dari anjing, di antaranya tentang kesetiaannya kepada orang yang mengasihinya.

Anjing saja bisa setia kepada orang yang sekali memberinya makanan. Berbeda dengan kita, yang sering lupa akan kebaikan orang-orang yang sering memberi kita makan. Bahkan kepada orang tua yang memberi makan kita seumur hidup, kita masih berani melawan.

Kita juga perlu belajar dari anjing yang senantiasa lapar, sebagaimana para orang saleh atau ulama sufi yang sering berpuasa. Juga tentang anjing yang tidak tidur, kecuali hanya sebentar, sebagaimana orang saleh yang begadang untuk bertahajud saat semua lelap dalam tidur.

Allah pernah berfirman dalam QS Al-A’raf 7:179, Allah mengumpamakan manusia yang memiliki hati tapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), memiliki mata tapi tidak pernah dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mempunyai telinga tapi tidak digunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah), diumpamakan dengan binatang atau lebih sesat lagi.

 

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa perumpamaan itu bukan merendahkan hewan, melainkan bermaksud binatang yang tidak diberi potensi oleh Allah untuk memahami tanda-tanda ayat dengan mata, telinga, apalagi hati. Sedangkan manusia diberi potensi itu, sehingga dapat disimpulkan jika manusia yang diberi potensi tapi tidak menggunakannya, maka ia lebih buruk dari binatang. Binatang yang terbatas saja bisa mematuhi perintah majikannya, kok kita yang diberi potensi tidak bisa mematuhi perintah Penciptanya?

Oleh karena itu, jangan terlalu gampang merendahkan binatang, apalagi anjing, karena rahmat Tuhan tidak hanya kepada manusia. Jadi, bagaimana? Tertarik menjadi anjing juga?

Komentar