Raisa mulai membaik, sudah mampu duduk di teras rumah, tetapi nenek tetap sibuk menyuapinya dengan nasi dan membungkusnya dengan selimut sarung. Nenek sebenarnya ingin membantu tetangga Kakek Bejjo, namun dengan kondisi Raisa yang masih belum sepenuhnya pulih, nenek harus bersabar hingga keadaan Raisa membaik lebih lanjut. Tak lama kemudian, muncullah Nunung, teman sekelas Raisa, membawa sebuah kantong plastik yang berisi nasi beserta lauknya.
“Inilah dari mama, katanya semoga Raisa cepat sembuh,” ujar Nunung.
“Terima kasih, Dek Nunung,” kata nenek dengan ramah.
“Raisa, semoga cepat sembuh ya... supaya kita bisa kembali sekolah lagi,” ucap Nunung.
“Iya, Nung, terima kasih,” jawab Raisa dengan senyum.
“Nung...” panggil nenek, ingin menyampaikan pesan kepadanya.
“Bilangin ke ibumu, bahwa ketika memberi sesuatu, haruslah dengan ikhlas.”
Meskipun terdengar seperti sindiran, Nunung, dengan usianya yang masih muda, tidak begitu memahami maksud sebenarnya dari perkataan nenek. Jadi, dia hanya menyampaikan pesan sesuai yang dia dengar.
Setelah sholat Ashar, ibu Nunung datang ke rumah nenek dengan wajah yang sedikit tegang. Dia bertanya, “Kenapa nenek menyuruh saya untuk bersikap ikhlas?”
“Saya pikir saya sudah bersikap ikhlas, Nek. Setiap hari saya mengirimkan nasi, saya tahu, Nek, bahwa Anda tidak bisa bekerja karena Raisa sakit. Jadi saya mengantar nasi, saya tidak memiliki niat lain, Nek, Insya Allah, saya ikhlas,” jawab ibu Nunung dengan suara dingin.
“Tadi sebelum datang kemari, kamu sudah pergi ke toilet?” tanya nenek sambil menundukkan kepalanya, sedangkan Raisa sedang tertidur di dalam rumah.
“Kenapa Nek bertanya seperti itu, tidak ada hubungannya kan,” jawab ibu Nunung dengan sedikit kebingungan.
“Hari ini, berapa kali kamu buang air kecil?” tanya nenek lebih lanjut.
Ibu Nunung terkejut dengan pertanyaan nenek, tapi ia tetap menjawab, “Hari ini saya belum buang air besar, tapi sepertinya sudah dua kali buang air kecil.”
“Kalau dalam seminggu ini, berapa kali?” tanya nenek lagi.
“Saya lupa, Nek... Saya tidak pernah menghitung berapa kali buang air besar dan buang air kecil,” jawab ibu Nunung dengan suara agak lesu.
“Itu karena kamu tidak bersikap ikhlas,” jawab nenek.
“Kalau kamu bersikap ikhlas, kamu tidak akan mengingat-ngingatnya, tidak akan menghitungnya setelah melakukannya. Kamu tidak akan mengingat warnanya, baunya, seolah dibiarkan saja karena sudah menjadi kewajiban. Kamu menganggap buang air besar dan buang air kecil tidak bermanfaat, padahal keluarnya kotoran dan urine sangat berguna untuk kesehatan pencernaan.”
“Jadi, kalau saya masih mengingatnya, itu artinya saya belum bersikap ikhlas, Nek?” tanya ibu Nunung.
“Allah lebih mengetahui,” jawab nenek.
Tiba-tiba, ibu Nunung pergi dari rumah nenek dengan wajah yang kesal, seolah-olah dia tidak suka dengan pernyataan nenek bahwa keikhlasan akan terukur dengan mengingat atau tidaknya barang yang telah diberikan.

Komentar
Posting Komentar