MUSIM 1 HARI 3 : MATI SEBELUM KEMATIAN

 


Gara-gara kejadian semalam, Raisa sekarang sakit parah. Kulitnya panas dan ia tidak berhenti menggigil sejak tadi siang. Di rumah Kakek Bejjo, mereka berusaha membacakannya ruqiyah dan memberi beberapa rempah-rempah untuk dijadikan jamu. Selagi nenek mengolah rempah yang diberikan Kakek Bejjo, Raisa tidak berhenti bernangis dan menjerit kesakitan. Nenek merasa iba padanya, ingin sekali membawanya ke rumah sakit, tapi ia tidak punya biaya untuk itu. Di desa kami, rumah sakit hanya diperuntukkan bagi orang menengah ke atas. Bahkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang katanya untuk rakyat miskin malah didapatkan oleh orang-orang kaya itu. Entahlah, apa lagi jarak rumah sakit dan rumah nenek sangat jauh. Kemungkinan jika berjalan menggunakan dokar, butuh 5-6 jam.

 

Setelah adzan isya', Kakek Bejjo kembali mendatangi rumah nenek. Saat itu keadaan Raisa sudah mendingan, ia sudah bisa mengusap nasi meski hanya beberapa sendok. Raisa senang sekali karena Kakek Bejjo menjenguknya.

 

“Duduk, Kek, tak ambilkan kopi dulu di dapur,” ujar nenek.

 

“Dak usah repot-repot, Sri...”

 

“Semua orang bilang gitu, Kek, padahal aslinya dia mau,” dengan santainya Raisa memotong pembicaraan mereka, membuat nenek dan Kakek Bejjo tersenyum malu.

 

“Adek, masih kecil, tau dari mana begituan?”

 

“Tau lah, Kek, apa lagi kalau ada orang nawarin mampir dulu, padahal orang itu tidak mau kalau aku mampirin, iya kan, Kek?” Kakek kebingungan harus jawab apa, pertanyaan Raisa sering kali keluar dari batas umumnya seorang anak.

 

“Memang ada, Dek, orang kayak gitu, tapi kan tidak semua orang begitu. Adek tidak boleh gampang suudzon, harus beranggapan baik pada semua orang.”

 

“Meski kenyataannya dia tidak baik.”

 

“Iya, meski kenyataannya dia tidak baik, kita harus tetap berusaha menganggapnya baik. Barangkali dia benar-benar baik, kata Allah berprasangka buruk itu dosa, sama seperti makan daging saudaranya sendiri. Memangnya Raisa mau makan daging saudara sendiri?”

 

“Bukannya tidak mau, ya, Kek, tapi Raisa kan tidak punya saudara.” Nenek tertawa mendengarnya, sepertinya nenek dari tadi nguping dari dapur.

 

“Sepertinya Raisa sudah harus tidur duluan, soalnya Kek Bejjo mau minum kopi dulu diluar.”

 

“Kenapa tidak minum disini?” Raisa berusaha membantah alasan nenek. Raisa juga melihat kalau nenek bermain mata dengan Kakek, agar ia mau membiarkan Raisa istirahat dulu.

 

“Kakek juga mau merokok, Raisa, kalau Kakek merokok disini nanti kamu batuk.” Kakek berusaha mencari alasan untuk membantu nenek.

 

“Tapi sudah merokok kesini lagi, Kek.”

 

“Iya, Dek.”

 

Di luar, nenek menemani Kakek yang sedang merokok. Sekilas, nenek menanyakan sesuatu pada Kakek.

 

“Tetanggamu meninggal dunia ya...”

 

“Iya, tadi saya masih sempat menguburkan jenazahnya.”

 

“Sepurane, saya tidak bisa hadir, saya tidak bisa membiarkan Raisa sendiri disini.”

 

“Tidak papa, semua orang juga tau, kalau Raisa mu sedang sakit.”

 

Sedikit ada senja dalam obrolan mereka, sehingga suara jangkrik terdengar sangat nyaring, Kakek melihat dari luar ternyata Raisa sudah tidur.

 

“Semua orang pasti mati ya...?” tanya nenek sambil menatap gelapnya langit malam.

 

“Kenapa bertanya seperti itu, kamu mau ninggalin Raisa sendiri, Sri...?” tanya kaget mendengar pertanyaan nenek.

 

“Saya hanya bertanya, toh, Kek. Semua orang pasti mati? Saya dengan umur yang sekarang selalu hawatir dan takut, tiba-tiba Allah memanggil saya dan meninggalkan Raisa sendiri.”

 

“Kamu bukan satu-satunya orang yang takut mati, Sri. Semua orang juga begitu, bahkan ada suatu cerita tentang umat Nabi Sulaiman yang bertemu malaikat Izrail...”

 

“Malaikat Izrail, pencabut nyawa itu?” tanya nenek sambil melihat Kakek.

 

“Iya,... waktu itu orang itu menghampiri kediaman Nabi Sulaiman. Dia menagih janji yang pernah diberikan Nabi Sulaiman.”

 

“Wahai Nabi Allah, karena kesetianku padamu sesungguhnya engkau pernah berjanji akan memenuhi permintaanku,”

 

“Aku tidak pernah lupa janjiku, apa yang engkau minta?”

 

“Dengan kelebihan yang diberikan Allah padamu, bisa mengendalikan angin, tolong terbangkan aku ke negeri yang jauh. Sejauh-jauhnya.”

 

“Kenapa engkau meminta aku untuk menerbangkanmu sejauh-jauhnya?”

 

“Karena aku sungguh ketakutan.”

 

“Apa yang engkau takuti, wahai fulan, sehingga wajahmu begitu pucat dan engkau memintaku menerbangkanmu?”

 

“Wahai Nabi Allah, sebelum aku menemuimu, seseorang telah datang di rumahku.”

 

“Seperti apakah orang itu?”

 

“Dia sangat asing. Aku tidak pernah melihat orang itu sebelumnya.”

 

“Apakah dia mengucapkan sesuatu?”

 

“Tidak. Dia cuma berdiri dan melihatku dari jauh, tapi setiap kali aku menatapnya, sungguh semua bulu kudukku berdiri dan semua sendi tulangku jadi lunglai “Wahai fulan, yang engkau jumpai adalah Jibril, pemutus semua kenikmatan, ajalmu sudah dekat,” kata umat Nabi Sulaiman.

 

“Tidak, Nabi Allah. Karena itu aku mau menagih janjimu yang akan memenuhi permintaanku.”

 

“Tidak ada gunanya kau menghindari. Perbanyaklah saja ibadahmu kepada Allah.”

 

“Wahai Nabi Allah, tolong terbangkan saja aku ke negeri yang sangat jauh saat ini.”

 

“Sulaiman akhirnya memenuhi permintaan laki-laki itu, lewat kelebihan yang diberikan Allah kepadanya. Dia memerintahkan angin untuk menerbangkan laki-laki itu ke negeri yang jauh. Angin pun menerbangkan hingga sejauh-jauhnya. Namun, setiba di negeri yang dimaksud, laki-laki itu malah jatuh tersungkur. Di depan yang jauh itulah laki-laki yang mencoba menghindar dari Izrail menemui ajal.”

 

Kek Bejjo kembali menyalakan kreteknya, dan minum sedikit kopinya, lalu melanjutkan pembicaraannya.

 

“Jadi mau tidak mau, kematian pasti datang, bukan harus takut tapi, jadikan itu sebagai tanda bahwa kita harus lebih bersungguh-sungguh untuk beribadah, apalagi akan ada kematian sebelum kita mati.”

 

“Maksudnya, Kek?” tanya nenek.

 

“Sebelum kematian jasad kita, kita harus menjalankan kematian dahulu.”

 

“Memangnya ada orang mau menjalankan kematian?”

 

Nenek... nyamuk... terdengar Raisa sedang mengigau di dalam.

 

“Itu keharusan, Sri... itu perintah Allah,” Kakek mengecilkan suaranya.

 

“Kematian apa itu, Kek?”

 

“Kematian nafsu.”

 

“Saya masih belum faham, Kek.”

 

“Manusia diperintahkan untuk mematikan nafsunya, sebelum matinya jasad mereka. Sekiranya nafsu mereka telah merasakan kematian sebelum jasadnya juga mati, memang sulit, tapi itu juga bentuk penyerahan seorang hamba, yang bernilai besar kelak ketika kita telah di akhirat.”

 

“Nafsu bagaimana yang harus dimatikan?”

 

“Segalanya... semua yang berbentuk keinginan, marah, dengki, dendam, malas, bosan, ingin berbuat baik, ingin beribadah, dan sebagainya.”

 

“Kenapa ibadah dikatakan nafsu?”

 

“Kan kita tidak tahu ibadah kita diperuntukkan untuk apa, bisa jadi hanya untuk pamer, ingin dipuji, meski untuk memuji diri sendiri.”

 

“Apakah saya bisa, Kek?”

 

“Itu nafsumu sudah tidak sanggup.”

 

“Nanti kalau nafsu kita sudah mati, lalu bagaimana?”

 

“Kau akan merasakan kebaikan dan keburukannya.”

 

“Siapa yang memberikannya?”

 

“Semua akan diberikan oleh Allah.”

 

“Apakah Allah akan memberikan kita keburukan juga? Bukankah Allah maha baik?”

 

“Jika bukan Allah, menurutmu siapa, Sri?”

 

“Mana aku tahu, Kek...”

 

“Semua itu sudah diatur oleh Allah, Sri...”

 

“Bukankah sifat nafsu itu pemberian Allah? Kenapa harus dihilangkan?”

 

“Bukan dihilangkan, tapi dikendalikan, Sri...”

 

“Kenapa?”

 

“Agar kau mengenali dirimu lalu mengenali Tuhanmu?”

 

Sri terdiam mendengarkan jawaban terakhir Kakek Bejjo, suara jangkrik pun mulai terdengar lebih nyaring, dan bulan pun mulai meranjak ke arah barat, di situ Kakek Bejjo mulai berpamitan pulang.

 

“Siapa sebenarnya diri kita, Kek?”

 

“Ha...” Kakek mulai berdiri dan pura-pura tidak mendengar, “aku pamit dulu ya, Sri, sudah malam, kasian ayamku kelaparan, makasih kopinya.”

 

“Sama-sama.”

 

“Oh, titip salam sama Raisa, bilang sama dia kamu sama saja seperti nenekmu.”

 

Nenek tersenyum mendengarkan tapi sekejap kembali terdiam, sepertinya malam ini dia tidak bakal bisa nyenyak tidur.

Komentar