Gara-gara kejadian semalam, Raisa sekarang sakit parah. Kulitnya panas dan ia tidak berhenti menggigil sejak tadi siang. Di rumah Kakek Bejjo, mereka berusaha membacakannya ruqiyah dan memberi beberapa rempah-rempah untuk dijadikan jamu. Selagi nenek mengolah rempah yang diberikan Kakek Bejjo, Raisa tidak berhenti bernangis dan menjerit kesakitan. Nenek merasa iba padanya, ingin sekali membawanya ke rumah sakit, tapi ia tidak punya biaya untuk itu. Di desa kami, rumah sakit hanya diperuntukkan bagi orang menengah ke atas. Bahkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang katanya untuk rakyat miskin malah didapatkan oleh orang-orang kaya itu. Entahlah, apa lagi jarak rumah sakit dan rumah nenek sangat jauh. Kemungkinan jika berjalan menggunakan dokar, butuh 5-6 jam.
Setelah adzan
isya', Kakek Bejjo kembali mendatangi rumah nenek. Saat itu keadaan Raisa sudah
mendingan, ia sudah bisa mengusap nasi meski hanya beberapa sendok. Raisa
senang sekali karena Kakek Bejjo menjenguknya.
“Duduk, Kek,
tak ambilkan kopi dulu di dapur,” ujar nenek.
“Dak usah
repot-repot, Sri...”
“Semua orang
bilang gitu, Kek, padahal aslinya dia mau,” dengan santainya Raisa memotong
pembicaraan mereka, membuat nenek dan Kakek Bejjo tersenyum malu.
“Adek, masih
kecil, tau dari mana begituan?”
“Tau lah, Kek,
apa lagi kalau ada orang nawarin mampir dulu, padahal orang itu tidak mau kalau
aku mampirin, iya kan, Kek?” Kakek kebingungan harus jawab apa, pertanyaan
Raisa sering kali keluar dari batas umumnya seorang anak.
“Memang ada,
Dek, orang kayak gitu, tapi kan tidak semua orang begitu. Adek tidak boleh
gampang suudzon, harus beranggapan baik pada semua orang.”
“Meski
kenyataannya dia tidak baik.”
“Iya, meski
kenyataannya dia tidak baik, kita harus tetap berusaha menganggapnya baik.
Barangkali dia benar-benar baik, kata Allah berprasangka buruk itu dosa, sama
seperti makan daging saudaranya sendiri. Memangnya Raisa mau makan daging
saudara sendiri?”
“Bukannya tidak
mau, ya, Kek, tapi Raisa kan tidak punya saudara.” Nenek tertawa mendengarnya, sepertinya
nenek dari tadi nguping dari dapur.
“Sepertinya
Raisa sudah harus tidur duluan, soalnya Kek Bejjo mau minum kopi dulu diluar.”
“Kenapa tidak
minum disini?” Raisa berusaha membantah alasan nenek. Raisa juga melihat kalau
nenek bermain mata dengan Kakek, agar ia mau membiarkan Raisa istirahat dulu.
“Kakek juga mau
merokok, Raisa, kalau Kakek merokok disini nanti kamu batuk.” Kakek berusaha
mencari alasan untuk membantu nenek.
“Tapi sudah
merokok kesini lagi, Kek.”
“Iya, Dek.”
Di luar, nenek
menemani Kakek yang sedang merokok. Sekilas, nenek menanyakan sesuatu pada
Kakek.
“Tetanggamu
meninggal dunia ya...”
“Iya, tadi saya
masih sempat menguburkan jenazahnya.”
“Sepurane, saya
tidak bisa hadir, saya tidak bisa membiarkan Raisa sendiri disini.”
“Tidak papa,
semua orang juga tau, kalau Raisa mu sedang sakit.”
Sedikit ada
senja dalam obrolan mereka, sehingga suara jangkrik terdengar sangat nyaring,
Kakek melihat dari luar ternyata Raisa sudah tidur.
“Semua orang
pasti mati ya...?” tanya nenek sambil menatap gelapnya langit malam.
“Kenapa
bertanya seperti itu, kamu mau ninggalin Raisa sendiri, Sri...?” tanya kaget
mendengar pertanyaan nenek.
“Saya hanya
bertanya, toh, Kek. Semua orang pasti mati? Saya dengan umur yang sekarang
selalu hawatir dan takut, tiba-tiba Allah memanggil saya dan meninggalkan Raisa
sendiri.”
“Kamu bukan
satu-satunya orang yang takut mati, Sri. Semua orang juga begitu, bahkan ada
suatu cerita tentang umat Nabi Sulaiman yang bertemu malaikat Izrail...”
“Malaikat
Izrail, pencabut nyawa itu?” tanya nenek sambil melihat Kakek.
“Iya,... waktu
itu orang itu menghampiri kediaman Nabi Sulaiman. Dia menagih janji yang pernah
diberikan Nabi Sulaiman.”
“Wahai Nabi
Allah, karena kesetianku padamu sesungguhnya engkau pernah berjanji akan
memenuhi permintaanku,”
“Aku tidak
pernah lupa janjiku, apa yang engkau minta?”
“Dengan
kelebihan yang diberikan Allah padamu, bisa mengendalikan angin, tolong
terbangkan aku ke negeri yang jauh. Sejauh-jauhnya.”
“Kenapa engkau
meminta aku untuk menerbangkanmu sejauh-jauhnya?”
“Karena aku
sungguh ketakutan.”
“Apa yang
engkau takuti, wahai fulan, sehingga wajahmu begitu pucat dan engkau memintaku
menerbangkanmu?”
“Wahai Nabi Allah,
sebelum aku menemuimu, seseorang telah datang di rumahku.”
“Seperti apakah
orang itu?”
“Dia sangat
asing. Aku tidak pernah melihat orang itu sebelumnya.”
“Apakah dia
mengucapkan sesuatu?”
“Tidak. Dia
cuma berdiri dan melihatku dari jauh, tapi setiap kali aku menatapnya, sungguh
semua bulu kudukku berdiri dan semua sendi tulangku jadi lunglai “Wahai fulan,
yang engkau jumpai adalah Jibril, pemutus semua kenikmatan, ajalmu sudah
dekat,” kata umat Nabi Sulaiman.
“Tidak, Nabi
Allah. Karena itu aku mau menagih janjimu yang akan memenuhi permintaanku.”
“Tidak ada
gunanya kau menghindari. Perbanyaklah saja ibadahmu kepada Allah.”
“Wahai Nabi
Allah, tolong terbangkan saja aku ke negeri yang sangat jauh saat ini.”
“Sulaiman
akhirnya memenuhi permintaan laki-laki itu, lewat kelebihan yang diberikan
Allah kepadanya. Dia memerintahkan angin untuk menerbangkan laki-laki itu ke
negeri yang jauh. Angin pun menerbangkan hingga sejauh-jauhnya. Namun, setiba
di negeri yang dimaksud, laki-laki itu malah jatuh tersungkur. Di depan yang
jauh itulah laki-laki yang mencoba menghindar dari Izrail menemui ajal.”
Kek Bejjo
kembali menyalakan kreteknya, dan minum sedikit kopinya, lalu melanjutkan
pembicaraannya.
“Jadi mau tidak
mau, kematian pasti datang, bukan harus takut tapi, jadikan itu sebagai tanda
bahwa kita harus lebih bersungguh-sungguh untuk beribadah, apalagi akan ada
kematian sebelum kita mati.”
“Maksudnya,
Kek?” tanya nenek.
“Sebelum
kematian jasad kita, kita harus menjalankan kematian dahulu.”
“Memangnya ada
orang mau menjalankan kematian?”
Nenek...
nyamuk... terdengar Raisa sedang mengigau di dalam.
“Itu keharusan,
Sri... itu perintah Allah,” Kakek mengecilkan suaranya.
“Kematian apa
itu, Kek?”
“Kematian
nafsu.”
“Saya masih
belum faham, Kek.”
“Manusia
diperintahkan untuk mematikan nafsunya, sebelum matinya jasad mereka. Sekiranya
nafsu mereka telah merasakan kematian sebelum jasadnya juga mati, memang sulit,
tapi itu juga bentuk penyerahan seorang hamba, yang bernilai besar kelak ketika
kita telah di akhirat.”
“Nafsu
bagaimana yang harus dimatikan?”
“Segalanya...
semua yang berbentuk keinginan, marah, dengki, dendam, malas, bosan, ingin
berbuat baik, ingin beribadah, dan sebagainya.”
“Kenapa ibadah
dikatakan nafsu?”
“Kan kita tidak
tahu ibadah kita diperuntukkan untuk apa, bisa jadi hanya untuk pamer, ingin
dipuji, meski untuk memuji diri sendiri.”
“Apakah saya
bisa, Kek?”
“Itu nafsumu
sudah tidak sanggup.”
“Nanti kalau
nafsu kita sudah mati, lalu bagaimana?”
“Kau akan
merasakan kebaikan dan keburukannya.”
“Siapa yang
memberikannya?”
“Semua akan
diberikan oleh Allah.”
“Apakah Allah
akan memberikan kita keburukan juga? Bukankah Allah maha baik?”
“Jika bukan
Allah, menurutmu siapa, Sri?”
“Mana aku tahu,
Kek...”
“Semua itu
sudah diatur oleh Allah, Sri...”
“Bukankah sifat
nafsu itu pemberian Allah? Kenapa harus dihilangkan?”
“Bukan
dihilangkan, tapi dikendalikan, Sri...”
“Kenapa?”
“Agar kau
mengenali dirimu lalu mengenali Tuhanmu?”
Sri terdiam
mendengarkan jawaban terakhir Kakek Bejjo, suara jangkrik pun mulai terdengar
lebih nyaring, dan bulan pun mulai meranjak ke arah barat, di situ Kakek Bejjo
mulai berpamitan pulang.
“Siapa sebenarnya
diri kita, Kek?”
“Ha...” Kakek
mulai berdiri dan pura-pura tidak mendengar, “aku pamit dulu ya, Sri, sudah
malam, kasian ayamku kelaparan, makasih kopinya.”
“Sama-sama.”
“Oh, titip
salam sama Raisa, bilang sama dia kamu sama saja seperti nenekmu.”
Nenek tersenyum
mendengarkan tapi sekejap kembali terdiam, sepertinya malam ini dia tidak bakal
bisa nyenyak tidur.

Komentar
Posting Komentar