Ke esokan harinya, Raisa pulang lebih awal dari sekolahnya karena pagi tadi neneknya telah berjanji untuk membawanya ke pasar membeli sayur dan ikan sebagai tanda minta maaf dari kejadian kemarin.
“Nek, belanja
yang banyak ya... soalnya Raisa pengen gemuk,” ucap Raisa.
“Loh, tidak
boleh gitu, Dek... Kita harus makan secukupnya, berlebihan itu tidak bagus,
sama halnya dengan membuang-buang,” jawab nenek dengan tegas.
“Tapi, Nek...”
Raisa berhenti bertanya, sadar bahwa apa yang dikatakan neneknya itu bersifat
paten, sulit untuk dibantah oleh siapapun, bahkan seorang pejabat pun.
Sudah sekitar
setengah jam mereka keliling pasar. Meski sebenarnya Raisa sudah kebelet pengen
pulang dipasar terlalu banyak godaan, entah itu mainan, permen, jajan, semuanya
pengen Raisa beli. Tapi dia hanya bisa diam karena dia tahu kalau minta itu
pasti kena omel, "jangan beli barang tidak berguna."
Tak lama
kemudian, terlihat seorang pengemis tua menjulurkan tangannya sambil
mengucapkan, "Nek, minta uangnya, Nek. Sudah 2 hari tidak makan."
Dengan mudahnya, nenek mengeluarkan uang dari dompetnya untuk diberikan pada
orang itu. Raisa pun terkejut, sebegitu mudahnya nenek memberikan uangnya.
Apakah tidak mubazir memberikan uang pada orang yang tidak dikenal, jika
memberikan uang pada cucu sendiri dianggap mubazir?
"Tunggu,
Nek..." panggil Raisa.
"Apa,
Dek?" tanya nenek yang melihat murungnya wajah Raisa.
"Kita kan
tidak kenal dia siapa, kenapa nenek memberikannya uang?"
"Kita kan
harus sedekah, Dek..."
Ditengah
perjalanan pulang, tidak sengaja Raisa melihat kakek Bejjo yang sedang memberi
makan anak ayamnya di halaman rumahnya. Kakek Bejjo sendiri adalah dukun
disini, biasanya setiap masyarakat yang punya masalah mendatangi beliau, baik
itu untuk berobat atau hanya mencari solusi dari masalahnya. Meski Raisa tidak
punya hubungan darah dengannya, Raisa sering bersamanya ketika lagi males
bersama nenek.
"Nek,
Raisa mau main dirumah kakek."
"Iya,
jangan malam-malam nanti lambat yang mau ngaji kelanggar," jawab nenek.
Melihat
kakeknya Bejjo memberikan makan ayamnya, Raisa pun menanyakan hal yang sama
padanya.
"Kakek
sedang memberi makan ayam?"
"Iya,
Raisa, ayam kakek kayaknya sangat lapar."
"Loh,
bukannya ayam bisa cari makan sendiri? Kenapa harus diberi makan?"
"Itu kan
kewajiban kakek sebagai pemiliknya... apalagi kan yang lebih mampu harus
menolong yang tidak mampu, Dek..."
"Berarti
kakek sedang sedekah donk?"
"Iya lah,
kakek sedang sedekah... kenapa adek bertanya begitu?" Kakek mengajak Raisa
duduk dan menyuruhnya untuk menceritakan masalahnya.
"Karena
Raisa kesel sama nenek. Tadi nenek dan Raisa pergi ke pasar, ketemu sama orang
tak dikenal yang minta-minta uang gitu... eh, nenek malah seenaknya memberikan
uangnya pada orang tua itu. Sedangkan ketika Raisa minta uang, dikatakan takut
mubazir. Kan mubazir uangnya kalau diberikan pada orang tidak dikenal.
Memangnya kenapa dia tidak bekerja sendiri kayak nenek?"
"Ya, tidak
mubazir, Dek... Orang yang ikhlas memberi pasti hatinya senang, karena telah
membantu orang yang lebih tidak mampu. Sedekah itu tidak harus orang kaya,
selagi kita bisa kita juga harus bersedekah. Kemungkinan memang takdirnya jadi
pengemis, mau nyalahin siapa, Dek... Lagi pula, orang yang bersedekah akan
dibalas 700x lipat loh..."
"Meski
pada ayam..."
"Kesemua
makhluk Allah, Raisa, selagi mereka membutuhkan."
"Berarti
Raisa harus banyak sedekah agar cepat kaya?"
"Hmmmm..."
tersenyum kakek, kebingungan dengan yang dipikirkan Raisa.
"Kalau
begitu Raisa pulang dulu, Kek. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam,
jangan lupa ikhlas, Raisa..."
Ketika malam
hari, nenek terbangun dari tidurnya, melihat Raisa terguling-guling karena
digigit nyamuk. Nenek mencoba menghidupkan lagi obat nyamuk yang mati, tapi
Raisa malah menggerutu dengan keras.
"Nek...
kenapa dihidupkan lagi... matikan saja, biarkan nyamuk ini minum darah Raisa,
biar Raisa cepat gemuk."
Nenek tersenyum
melihatnya mendengar ucapan Raisa yang setengah sadar, entah apa yang ia
pikirkan.

Komentar
Posting Komentar