MUSIM 1 (H2) : Bersedekah Pada Nyamuk

 


Ke esokan harinya, Raisa pulang lebih awal dari sekolahnya karena pagi tadi neneknya telah berjanji untuk membawanya ke pasar membeli sayur dan ikan sebagai tanda minta maaf dari kejadian kemarin.

 

“Nek, belanja yang banyak ya... soalnya Raisa pengen gemuk,” ucap Raisa.

 

“Loh, tidak boleh gitu, Dek... Kita harus makan secukupnya, berlebihan itu tidak bagus, sama halnya dengan membuang-buang,” jawab nenek dengan tegas.

 

“Tapi, Nek...” Raisa berhenti bertanya, sadar bahwa apa yang dikatakan neneknya itu bersifat paten, sulit untuk dibantah oleh siapapun, bahkan seorang pejabat pun.

 

Sudah sekitar setengah jam mereka keliling pasar. Meski sebenarnya Raisa sudah kebelet pengen pulang dipasar terlalu banyak godaan, entah itu mainan, permen, jajan, semuanya pengen Raisa beli. Tapi dia hanya bisa diam karena dia tahu kalau minta itu pasti kena omel, "jangan beli barang tidak berguna."

 

Tak lama kemudian, terlihat seorang pengemis tua menjulurkan tangannya sambil mengucapkan, "Nek, minta uangnya, Nek. Sudah 2 hari tidak makan." Dengan mudahnya, nenek mengeluarkan uang dari dompetnya untuk diberikan pada orang itu. Raisa pun terkejut, sebegitu mudahnya nenek memberikan uangnya. Apakah tidak mubazir memberikan uang pada orang yang tidak dikenal, jika memberikan uang pada cucu sendiri dianggap mubazir?

 

"Tunggu, Nek..." panggil Raisa.

 

"Apa, Dek?" tanya nenek yang melihat murungnya wajah Raisa.

 

"Kita kan tidak kenal dia siapa, kenapa nenek memberikannya uang?"

 

"Kita kan harus sedekah, Dek..."

 

Ditengah perjalanan pulang, tidak sengaja Raisa melihat kakek Bejjo yang sedang memberi makan anak ayamnya di halaman rumahnya. Kakek Bejjo sendiri adalah dukun disini, biasanya setiap masyarakat yang punya masalah mendatangi beliau, baik itu untuk berobat atau hanya mencari solusi dari masalahnya. Meski Raisa tidak punya hubungan darah dengannya, Raisa sering bersamanya ketika lagi males bersama nenek.

 

"Nek, Raisa mau main dirumah kakek."

 

"Iya, jangan malam-malam nanti lambat yang mau ngaji kelanggar," jawab nenek.

 

Melihat kakeknya Bejjo memberikan makan ayamnya, Raisa pun menanyakan hal yang sama padanya.

 

"Kakek sedang memberi makan ayam?"

 

"Iya, Raisa, ayam kakek kayaknya sangat lapar."

 

"Loh, bukannya ayam bisa cari makan sendiri? Kenapa harus diberi makan?"

 

"Itu kan kewajiban kakek sebagai pemiliknya... apalagi kan yang lebih mampu harus menolong yang tidak mampu, Dek..."

 

"Berarti kakek sedang sedekah donk?"

 

"Iya lah, kakek sedang sedekah... kenapa adek bertanya begitu?" Kakek mengajak Raisa duduk dan menyuruhnya untuk menceritakan masalahnya.

 

"Karena Raisa kesel sama nenek. Tadi nenek dan Raisa pergi ke pasar, ketemu sama orang tak dikenal yang minta-minta uang gitu... eh, nenek malah seenaknya memberikan uangnya pada orang tua itu. Sedangkan ketika Raisa minta uang, dikatakan takut mubazir. Kan mubazir uangnya kalau diberikan pada orang tidak dikenal. Memangnya kenapa dia tidak bekerja sendiri kayak nenek?"

 

"Ya, tidak mubazir, Dek... Orang yang ikhlas memberi pasti hatinya senang, karena telah membantu orang yang lebih tidak mampu. Sedekah itu tidak harus orang kaya, selagi kita bisa kita juga harus bersedekah. Kemungkinan memang takdirnya jadi pengemis, mau nyalahin siapa, Dek... Lagi pula, orang yang bersedekah akan dibalas 700x lipat loh..."

 

"Meski pada ayam..."

 

"Kesemua makhluk Allah, Raisa, selagi mereka membutuhkan."

 

"Berarti Raisa harus banyak sedekah agar cepat kaya?"

 

"Hmmmm..." tersenyum kakek, kebingungan dengan yang dipikirkan Raisa.

 

"Kalau begitu Raisa pulang dulu, Kek. Assalamualaikum."

 

"Waalaikumsalam, jangan lupa ikhlas, Raisa..."

 

Ketika malam hari, nenek terbangun dari tidurnya, melihat Raisa terguling-guling karena digigit nyamuk. Nenek mencoba menghidupkan lagi obat nyamuk yang mati, tapi Raisa malah menggerutu dengan keras.

 

"Nek... kenapa dihidupkan lagi... matikan saja, biarkan nyamuk ini minum darah Raisa, biar Raisa cepat gemuk."

 

Nenek tersenyum melihatnya mendengar ucapan Raisa yang setengah sadar, entah apa yang ia pikirkan.

Komentar