MUSIM 1 (H1) : Allah tidak Perhatian




Malam menyelimuti bumi dengan lembutnya, sementara seberkas cahaya dari sang pencipta menghiasi kegelapan. Dedaunan mulai meredup, sulit terlihat oleh mata, sementara serangga-serangga bersenandung riang di mana-mana.

Jam menunjukkan pukul 08:00 WIB. Seperti biasanya, mereka tidur bersama dalam satu keranjang. Nenek dengan lembut mengelus rambut Raisa, berusaha membuatnya segera terlelap dalam tidurnya.

"Nak, belum tidur ya?" tanya nenek dengan suara kasarnya yang penuh kehangatan.

"Belum, Nenek. Raisa masih banyak pikiran, besok kan Raisa masuk kelas lima SD," keluh Raisa sambil mata masih terpejam rapat.

"Hanya masuk kelas saja kok bikin ribet?" ujar nenek.

"Bukan begitu, Nenek. Pasti pelajaran di SMA lebih sulit dari sebelumnya,".

"Dari mana kamu tahu? Kan belum pernah mencoba,".

"Kayaknya gitu deh, Nenek..."

"Allah Maha Penyayang," kata nenek sambil tersenyum, "Dia memberi beban sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Kamu sabar saja dan jangan lupa berdoa, pasti Allah akan membantumu, Nak."

Taklama Raisapun tertidur dengan nyenyak membuat nenek tersenyum bahagia melihatnya. Belakangan ini, nenek merasa agak tertekan dengan beban hidupnya yang semakin berat. Namun, bagi nenek, itu bukanlah masalah karena dia yakin rezeki sudah diatur oleh Sang Kuasa.

Pagi pun tiba, dan Raisa bangun di rumah yang sunyi. Seperti biasanya, nenek pasti pergi setelah menyiapkan semuanya, seperti seragam sekolah yang diletakkan di atas kasur, sarapan di dapur dan uang jajan di atas lemari dibawah lemek. Semua itu membuat mode Raisa rusak sejak pagi.

Di sekolah, Raisa harus mengikuti tes penempatan kelas. Raisa bertanya dengan polosnya kepada ibu gurunya, "Kenapa harus ada tes, Bu? Bukannya Tuhan sudah tahu kemampuan Raisa?"

Ibu guru menjawab dengan ragu, "Tapi, Raisa, bagaimana cara ibu bertanya pada Tuhan?"

Raisa terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.

Sepulang sekolah Raisa segera kembali pulang, sedih hati Raisa melihat rumah yang sangat sepi, suasana yang membuat mode Raisa hancur, suasana yang membuat Raisa ingin pergi dari rumah ini untuk selamanya, meski tak setiap hari tapi nenek sudah terlalu keseringan, Raisapun mengeluh pada tuhan, "Tuhan, mengapa Engkau menguji Raisa terus seperti ini? Padahal Raisa merasa tidak mampu."

Air mata mulai menetes, Raisa duduk dengan hening, matanya menatap kosong. Raisa merasa kadang Tuhan tidak sepenuhnya memahami kondisinya, apakah dia siap atau mampu. Kadang-kadang Tuhan terasa kurang memperhatikannya.

Sore hari tiba, Raisa baru saja selesai sholat Ashar di musholla. Ketika sampai di rumah, nenek sudah duduk di teras, mengenakan sepatu bot dan kaos kusut, serta topi jerami layaknya seorang petani.

"Sudah makan, Nak?" tanya nenek, tapi Raisa hanya memasang wajah kusutnya, lalu Raisa menghampirinya dan memukul pundaknya sambil menangis dan berkata "Jangan pikirkan Raisa makan apa tidak, pikirkan saja nenek. Nenek sanggup gak.... kerja kayak gitu di usia segini? Kalau nggak, kenapa nggak bilang sama Tuhan kalau nenek nggak sanggup? Raisa juga nggak sanggup sendirian di rumah terus siang hari."

Komentar