![]() |
Pada suatu sore, aku terpana melihat sejumlah besar orang berkumpul di masjid, menunggu dengan sabar untuk menerima makanan gratis yang disediakan oleh takmir masjid. Senyum tersembunyi di balik keterpaksaan kelaparan terpancar di wajah seorang kakek. Aku merasa tertawa, tetapi juga merasa sedih, karena bagiku, mereka keliru dalam memahami hakikat puasa.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga pengalaman menjadi miskin yang sebenarnya. Ini mengajarkan kita empati terhadap orang-orang yang kurang beruntung, yang terpaksa merasakan kelaparan karena tidak bisa memenuhi kebutuhan makanan. Namun, ironisnya, banyak yang memanfaatkan puasa sebagai alasan untuk bersantai, bahkan mencari makanan gratis, tanpa memperhatikan esensi sejati dari ibadah ini.
Puasa seharusnya menjadi waktu untuk meningkatkan produktivitas, bukan sebaliknya. Saat tubuh lemah dan lapar, kita seharusnya mampu menyamakan diri dengan orang-orang miskin yang bekerja keras dalam kondisi yang sulit. Mereka bekerja tanpa makanan yang memadai, tidur tanpa kenyamanan, bukan malah bersantai dari pagi hingga sore.
Di pintu masjid, terdapat tulisan yang terlihat ironis, "Selamat Datang Ibadah Puasa, kami merindukanmu." Meskipun terdengar konyol, tulisan itu seakan menyatakan bahwa puasa adalah waktu yang dinanti-nantikan, bukannya puasa itu wajib?, padahal lumrahnya sesuatu yang diwajibkan adalah sesuatu yang manusia tidak suka mengerjakannya. Kalau manusia melakukannya, untuk apa diwajibkan?
Sebagaimana Al-Qur'an menyatakan :
" Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Namun, kebahagiaan sejati dalam Ramadan terletak pada berkah yang Allah limpahkan pada bulan ini. Dalam hadis riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: "Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan. Pahala (setiap amalan) akan dilipatgandakan sampai sepuluh kali lipat, hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa, karena ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya. Seseorang meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya hanya karena Aku."
Jadi, mari kita berhenti berpura-pura bahagia dengan berpuasa, dan mulailah bersyukur atas keberkahan Ramadan yang dianugerahkan oleh Allah. Semoga kita semua dapat merasakan makna yang sebenarnya dari ibadah ini dan memperoleh berkah yang melimpah dalam setiap langkah kita.

Komentar
Posting Komentar