Mulur & Mungkret Dalam Perspektif Islam

  Mulur & Mungkret Dalam Perspektif Islam

Di esai sebelumnya kita telah menjelaskan tentang mulur-mungkret dan kesadaran yang telah terbiasakan dalam diri kita lalu bagaimana perspektif islam dalam pengertiannya.

      Sebuah kebuntuan manusia yang takingin merasa puas dalam sebua hal yang wajar ataupun tidak harus dilakukan. Keinginan ataupun hanya kesenangan dalam menggapai hal yang keluar dari batas dirinya. Menggapai sesuatu haruslah di sesuaikan dengan kadar kemampuan baik itu yang masih Tarojji ataupun yang telah ada di hadapan kita. Tak semua yang orang gapai harus kita gapai, takharus yang orang miliki juga kita miliki apa lagi dengan niatan melampaui atau biasa di katakan dengan Ujub Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah bersabdah

 “jika kau merasa besar...., maka periksalah hatimu, mungkin hatimu sedang bengkak.

Jika kau merasa suci, maka periksalah jiwamu, mungkin itu putihnya nanah dari luka nuranimu.

 jika kau merasa tinggi.....maka periksalah batinmu, mungkin hatimu sedang melayang kehilangan pijakan.

Jika kau merasa wangi.....maka periksalah ikhlasmu, mungkin itu asap dari amal sholehmu yang hangus di bakar riya’ .

 Dalam artian kita harus sebisa mungkin lolos dari sifat kesombongan/Ujub  karena, yang pantas merasa sombong hanyalah sang kuasa.

            Rasa cukup adalah solusi yang ampuh mengatasinya. Islam menyebutnya dengan kata qonaah dalam sebuah hadist dijelaskan dari ali Abu Harairah r.a Nabi saw. Bersabdah

“bukanlah kekayaan itu karena banyak harta benda tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati” (H.R Bukhori dan Muslim).

Buaknlah sebuah tuntutan yang nyata kita harus memiliki harta yang melimpah. Memiliki semuanya yang seharusnya kita rasa diperlukan. karena, segala apapun yang kita miliki telah di ukur atas perlu dan tidaknya harta tersebut.

            Terkadang seseorang telah merasa bahagia ketika ia bisa menafkahi seluruh anggota keluarganya meski hanya untuk satu hari dengan keringat dan kesabarannya ia akan mendapatkan kebahagian yang cukup ketika telah melaksanakan kewajibannya. Bedahalnya seseorang yang bahkan takusah memikirkan lagi dengan apa yang akan di makannya sekarang dan besok. Tapi, jiwanya selalu merasa terbebani dan gelisah dikarenakan pekerjaannya yang masih menumpuk dan tingginya keinginan yang ingin ia miliki.

            Kaya tak selamanya salah, Begitu juga miskin takselamanya benar. Karena arti kekayaan yang haqiqi adalah kemiskinan. kemiskinan yang dimaksud adalah kita telah merasa cukup dengan yang telah kita milik. Kita bersukur dengan yang telah ada tampa buta dengan hal yang masih belum kita miliki jikalau kita memerlukannya pastinya ia akan memberikannya. Kebutuhan bukanlah ia yang dibutuhkan orang lain melainkan apa yang memang dibutuhkan oleh diri kita sendiri. semisal orang lain memang harus memiliki mobil karena, jaraknya dengan pekerjaannya cukup jauh lalun kita yang pekerjaannya hanya di belakang rumah juga harus memiliki mobil sepertinya. Seakan ia menyia-nyiakan harta yang allah berikan Padanya. padahal tidak.

            Nabi dengan kesederhanaannya bukanlah orang yang miskin di mata mereka. Melaikna ia kaya dengan apa yang ia syukuri sesuai dengan kebutuhannya dan meninggalkan yang masih abstrak manfaatnya.

            Sesuai dengan teori KSM yang mensolusikan merasa cukup agar terlepas dari hal negatif Mulur ataupun Mungkret.

Tapi perlu di garis bawahi terkadang orang memang butuh kaya untuk membantu yang taksepertinya. Dan terkadang seseorang memang butuh miskin untuk terhindar dari ke salah gunaan hartanya.

Mungkin demkian jika ada kesalahan baik penting ataupun tidak harus ataupun tidak berpengaruh ataupun tidak kami, akan menerimanya komentar siapapun.

 sumber gambar :https://beritalima.com/orang-miskin-baru/

Komentar