www,qureta.com
Sebelum
melangkah pada psikologi beliau baiknya kita mengenal lebih dekat tentangna dia dalah putra ke-55 dari pasangan Sri Sultan Hamengku
Buwono VII dan Bendoro Raden Ayu Retnomandojo,
putri Patih Danurejo VI. Ki Ageng
Suryomentaram memiliki nama bangsawan Bendoro Raden Mas (BRM) Kudiarmadji dan
setelah umur 18 tahun diberi nama kebangsawanan Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Suryomentaram, BPH
Suryomentaram dilahirkan dan dibesarkan di
keluarga besar Keraton. Meski memiliki wawasan agama luas karena gemar membaca,
Ki Ageng tidak pernah berpuas diri sehingga memilih keluar dari Keraton dengan
menjadi petani di Desa Bringin, Salatiga. Sepanjang hidupnya, ia mencurahkan
perhatian terhadap masalah kejiwaaan. “Ki Ageng melakukan perjalanan
spiritualitas dengan pencarian jati diri sehingga mencari makna bahagia itu
seperti apa?
Semua bermula ketika BPH Suryomentaram pernah turut dalam rombongan jagong manten menuju Surakarta dan dalam perjalanannya iya
taksengaja melihat segelintir masyarakat yang sedan berada di pesawahan di
wilayah yang sedang dia lewati. Entah kenapa hatinya tersentuk ketika melihatnya, begitu beratnya beban hidup para petani. Taklama setelah kejadian itu ia menjadi sering keluar istana untuk bersemedi di tempat-tempat yang
biasa dikunjungi para leluhurnya seperti Gua Langse(terletak di Desa Giri Cahyo, Purwosari), Gua Semin dan Parangtritis( Bantul,Yogyakarta). Takpuas dengan hal itu
iya melanjutkan sebagai pengembara di
daerah Kroya, Purworejo sambil
bekerja serabutan sebagai pedagang batik pikulan, petani dan kuli.
Taklama dari itu utusan kraton mencoba
mencarinya haingga menemukannya di Kroya ketika
sedang bekerja menggali sumur selama mengembara BPH Suryomentaram menggunakan nama samaran Natadangsa. Merekapun mengajak Natadangsa untuk kembali ke istana. Hidup
BPH Suryomentaram di istana menjadi agak tidak menenangkan , tidak puas dan memuncak ketika
kakeknya Patih Danurejo VI dibebaskan dari
tugasnya dan ibunya dikembalikan kepada kakeknya. Hatinya pun kembali di
patahkan dengan kematian isteri BPH
Suryomentaram. Disitulah beliau memutuskan untuk mencari kebahagian yang sebenarnya
setelah merasakan kepedihan, beban, emosional yang membuatnya untuk mengambil
sikap melepaskan kedudukan kebangsawanannya untuk hidup menjadi rakyat
biasa. Ketika Sultan
Hamengkubuwono VII telah diganti oleh Sultan Hamengkubuwono VIII, Sultan baru
ini mengizinkan BPH Suryomentaram meninggalkan kraton Yogyakarta. BPH
Suryomentaram memilih untuk menjadi masyarakat biasa
layaknya masyarakat yang selama ini menghormatinya,tepatnya di desa Bringin di daerah Salatiga, Jawa Tengah. Dan di situlah sebuah ajaran psikologi lahir yang ia namakan sebagai Kawruh Begja yang berarti ilmu
bahagia. Penganutnya cukup banyak dan tersebar di seluruh Jawa, meskipun
tanpa ada organisasi atau propaganda seperti yang dilakukan oleh
aliran-aliran yang lain. Bagaimana tidak pengaruh Kawruh Begja/Jiwo seakan mengubah jiwa-jiwa
meeka yang haus tentang hikmah dan arti kehidupan.
Sepanjang masa hidupnya, Ki Ageng Suryomentaram mencurahkan daya dan
perhatiannya untuk menyelidiki alam kejiwaan dengan menjadikan dirinya sebagai
kelinci percobaan. Banyak hasil
penyelidikannya tentang diri sendiri yang berupa buku-buku, karangan-karangan
atau ceramah-ceramah. Pengajaran Ki Ageng Suryomentaram biasanya beliau juga
menajikan dengan ceramah-ceraham dengan keanggotaan yang terbatas disebuah
lesehan. Diantara karya-karya beliau yang di tulis dengan bahasa jawa diantaranya: Pangawikan Pribadi, Kawruh
Pamomong, Piageming Gesang, Ilmu Jiwa, Aku
Iki Wong Apa?. Karya beliau bukanhanya menjadi bacaan sehari-hari bahkan menjadi sebuah
fakultas psikologi di UGM bahkan takjarang para psikologi luar negri yang
berlama di sini hanya untuk menekuni psikologi beliau. Cara hidup Ki Ageng
Suryomentaram cukup menampakkan kesederhanaan dengan mengenakan celana
pendek, sarung yang diselempangkan pada pundaknya dan memakai kaos layaknya para priyayi pada masa itu. Rambutnya dicukur sampai pendek
dan kepalanya dibiarkan tidak tertutup serta kakinya pun dibiarkan tanpa alas.

Komentar
Posting Komentar